Tadi siang, aku tak sengaja bertemu dua orang adik tingkatku di kampus dulu. Keduanya wanita. Salah seorang dari mereka adalah orang yang sejak dulu kunilai cantik. Tadi dia menggunakan makeup, selayaknya orang-orang seumuran kami. Oleh karena makeup itu, menurutku kecantikannya berkurang.
Saat duduk di bangku TK, aku menyukai seorang teman perempuan. Dia memang cantik (ibuku juga berkata demikian). Saat ada perayaan Hari Kartini, dia diberi makeup, dan menurutku dia jadi tidak terlihat cantik.
Saat ini, ketika hangout bersama teman-teman baikku, aku berharap mereka tidak memakai makeup. Aku sudah beberapa kali melihat mereka ber-makeup dan aku pikir wajah mereka menjadi menakutkan.
Begitulah, bagiku, makeup merusak kecantikan seseorang.
Sabtu, 02 April 2016
Selasa, 02 Februari 2016
(untitled)
Aku berencana pergi ke Kota Blitar pada hari Sabtu besok, tanggal 6 Februari 2016. Aku baru saja mencari dan membaca cerita beberapa orang yang pernah berpetualang ke Blitar. Aku menemukan sebuah quote yang indah.
"Hidup ini cuma sekali, jangan diam saja di rumah. Ayo berpetualang. Lupakan sejenak mall atau café. Melihat tempat-tempat baru, ketemu orang-orang baru, mengamati budaya di tempat lain."
Sumbernya : https://punyarochman.wordpress.com/2012/04/24/blitar-plan-b/
Semoga aku berhasil pergi dan berjalan-berjalan di Blitar.
"Hidup ini cuma sekali, jangan diam saja di rumah. Ayo berpetualang. Lupakan sejenak mall atau café. Melihat tempat-tempat baru, ketemu orang-orang baru, mengamati budaya di tempat lain."
Sumbernya : https://punyarochman.wordpress.com/2012/04/24/blitar-plan-b/
Semoga aku berhasil pergi dan berjalan-berjalan di Blitar.
Jumat, 01 Januari 2016
Kenapa Banyak Lalat?
Belakangan ini, aku menemukan banyak lalat dimana-mana. Di kos, di tempat kerja, dll.
Aku jadi bertanya-tanya, "Kenapa sih kok dimana-mana banyak lalat?"
Beberapa hari yang lalu, ada seekor lalat terbang bolak-balik di tempat kami bekerja. Aku bertanya, "Kenapa sih kok banyak lalat?"
Ce Lisa menjawab, "Soalnya musim hujan.."
Aku bertanya lagi, "Lho emang rumahnya lalat dimana sih, kok waktu musim hujan pada dateng?"
Ce Lisa menjawab, "Rumahnya lalat ya di rumah.."
Lalu dia bertanya kepada Jane, "Jane, rumahnya lalat dimana?"
Jane menjawab, "Di rumah.."
Ce Lisa bertanya lagi, "Kenapa pas musim hujan banyak lalat?"
Jane menjawab, "Soalnya hujan, jadi lalatnya nggak bisa keluar rumah.."
Hahahahahaha.. Aku tertawa mendengar jawaban itu.
Hingga saat ini, setiap kali ingat akan hal itu, aku tertawa.
Hahahahahaha
Aku jadi bertanya-tanya, "Kenapa sih kok dimana-mana banyak lalat?"
Beberapa hari yang lalu, ada seekor lalat terbang bolak-balik di tempat kami bekerja. Aku bertanya, "Kenapa sih kok banyak lalat?"
Ce Lisa menjawab, "Soalnya musim hujan.."
Aku bertanya lagi, "Lho emang rumahnya lalat dimana sih, kok waktu musim hujan pada dateng?"
Ce Lisa menjawab, "Rumahnya lalat ya di rumah.."
Lalu dia bertanya kepada Jane, "Jane, rumahnya lalat dimana?"
Jane menjawab, "Di rumah.."
Ce Lisa bertanya lagi, "Kenapa pas musim hujan banyak lalat?"
Jane menjawab, "Soalnya hujan, jadi lalatnya nggak bisa keluar rumah.."
Hahahahahaha.. Aku tertawa mendengar jawaban itu.
Hingga saat ini, setiap kali ingat akan hal itu, aku tertawa.
Hahahahahaha
Selasa, 06 Oktober 2015
Pergi ke Gunung Kawi (4 - Suvenir)
Sejak awal, aku berniat membawa suvenir dari Gunung Kawi.
Yang ada di pikiranku, suvenir itu berupa kaos yang bertulisan "Gunung
Kawi", namun ketika berada di lokasi, aku mengurungkan niat untuk membeli
kaos karena biasanya harga kaos mahal. Selain itu, setelah kulihat sekilas di
toko-toko suvenir, kaos yang bertulisan "Gunung Kawi" tidak bagus.
Demikian cerita tentang perjalananku ke Gunung Kawi. Semoga bermanfaat bagi Anda.
Anda bisa membaca uraian yang lebih lengkap mengenai Wisata Ritual Gunung Kawi di sumber-sumber lain, salah satunya dalam blog Laurentia Dewi.
Aku mengunjungi toko dimana sebelumnya aku membeli sesuatu
untuk memecah uang. Aku tertarik pada gantungan kunci yang bergambar hewan-hewan
shio. Akhirnya, aku membeli yang bergambar babi karena aku suka makan babi.
Harganya Rp 5.000.
Ketika berjalan menuju terminal, aku melihat di beberapa
kios dan toko ada kantong berwarna merah dan kuning, bertulisan “Tempat Kembang
dari Pesarehan Gunung Kawi”. Aku tidak mengerti maksud dari tulisan itu. “Bunga
apa yang disimpan? Masak bunga yang dijual buat nyekar itu disimpan?” Akan
tetapi, karena ada tulisan “Gunung Kawi”, aku tertarik dan membelinya. Harganya
Rp 2.000.
Dalam perjalanan pulang, aku baru sadar bahwa mungkin kantong
itu digunakan untuk menyimpan bungkusan-bungkusan yang diberikan oleh juru
kunci di makam. Aku berpikir demikian karena aku beberapa kali melihat benda
semacam itu digantung di atas pintu di beberapa toko.
Aku penasaran dengan isi bungkusan-bungkusan itu.
Dari celah pada bungkusan berwarna coklat terlihat ada bunga. “Oo..
isinya bunga.” Tapi bungkusan yang lain, yang berbungkus koran dan selembar
kertas merah bertitik-titik hitam yang diikat dengan karet, isinya tidak
terlihat. Yang jelas, semua bungkusan itu berbau kemenyan. Bagian dalam tasku
pun turut berbau kemenyan.
Di rumah, aku membuka satu bungkusan coklat dan bungkusan
koran. Ternyata, bungkusan coklat memang berisi bunga. Bungkusan koran ternyata
berisi kemenyan.
Isi bungkusan coklat yang sudah terbuka kubuang dan
kertasnya kusimpan. Dua bungkusan yang lain aku simpan di dalam kantong yang tadi
kubeli dan kuletakkan di dalam lemari. Bukan sebagai jimat, melainkan sebagai
suvenir. Menurut salah satu sumber, bungkusan-bungkusan itu memang hanya merupakan kenang-kenangan dari pengelola makam, namun pengunjung mengeramatkannya.
Bunga dan kemenyan adalah ciptaan Tuhan, maka aku percaya
bahwa tidak ada hal jahat pada kedua benda itu. Namun karena digunakan dalam
ritual-ritual, kesan kedua benda itu menjadi negatif. Berdasarkan ajaran yang kuanut, aku tidak percaya bahwa
setan mendiami benda-benda, karena itu aku menyimpan suvenir itu.
Demikian cerita tentang perjalananku ke Gunung Kawi. Semoga bermanfaat bagi Anda.
Anda bisa membaca uraian yang lebih lengkap mengenai Wisata Ritual Gunung Kawi di sumber-sumber lain, salah satunya dalam blog Laurentia Dewi.
Pergi ke Gunung Kawi (3 - Di Lokasi Wisata)
Aku pikir perjalananku saat itu begitu menarik sehingga aku
ingin menulisnya. Aku pikir cerita ini juga bisa jadi kontroversial. Haha..
terkesan berlebihan. Namun percayalah, jika aku menceritakan kisah ini kepada
semua orang yang kukenal, sebagian besar dari mereka akan memberi tanggapan
negatif.
Setelah berjalan ke sana kemari, melihat-lihat, duduk, berpikir dan merenung, sekitar jam 1 aku memutuskan kembali ke kota. Aku berjalan turun ke terminal. Di situ aku melihat beberapa angkot biru muda, maka aku merasa senang karena ada angkot untuk kembali. Tidak ada orang di dalam angkot. Bapak-bapak yang sepertinya adalah sopir angkot duduk-duduk berbincang di sebuah tempat. Aku berkata kepada mereka bahwa aku mau pergi ke Kepanjen, lalu mereka menyuruhku duduk, menunggu di situ. Aku pikir mereka sedang menunggu ada penumpang lain. Beberapa saat kemudian, salah seorang dari mereka menelepon temannya dan mengatakan bahwa di situ ada penumpang yang mau ke Kepanjen. Tidak lama kemudian, datanglah sebuah angkot dan aku disuruh naik angkot itu. Ya, ternyata memang cukup sulit mendapat angkot di situ. Aku kembali ke kota dengan lancar, dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu berangkat.
Aku sudah melihat entah gerbang atau gapura yang aku yakini
sebagai jalan menuju lokasi karena jalannya berupa tangga (aku ingat bahwa
jalan menuju lokasi wisata berupa tangga), namun Pak Sopir tidak menurunkan aku
di situ. Aku juga sudah melihat terminal dimana banyak angkot parkir, tetapi
angkot terus berjalan naik dan aku diam saja, hingga tiba di suatu parkiran.
Aku sebelumnya bertanya kepada sopir berapa tarif angkot sampai Gunung Kawi,
tapi aku tidak mendengar dengan jelas jawabannya dan tidak bertanya lagi. Yang
pasti berakhiran “-las ewu”. Aku beri dia uang Rp 15.000 dan dia mengucapkan
terima kasih. Menurut sebuah website, tarifnya adalah Rp 10.000, tetapi itu
pada tahun 2013.
Begitu kami tiba, seorang Bapak datang menyambut menuju
angkot, berbincang sebentar dengan sopir, kemudian aku turun dan angkot pergi.
Bapak tersebut menunjukkanku jalan menuju makam. Ternyata, lokasi dimana angkot
menurunkanku memang lebih dekat dengan lokasi makam. Dia bertanya “Mau ke makam
ya? Dari mana? Sekolah atau kerja?”, dan sebagainya. Dia terus berjalan
bersamaku. Aku curiga bahwa orang ini adalah pemandu tak diundang yang pada
akhirnya akan meminta uang. Dia menyuruhku membeli bunga pada seorang penjual
bunga. Di sana ada banyak kios penjual bunga, namun saat itu hanya sedikit yang
berjualan. Ada pilihan bunga yang seharga Rp 2.000 dan Rp 5.000 (yang Rp 5.000
lebih banyak). Aku pilih yang Rp 2.000. Bunga tersebut sudah diletakkan pada
nampan.
Seperti yang telah kuceritakan di bagian 1, saat pertama
kali pergi ke sana, aku ingin sekali masuk area makam, namun tidak masuk. Aku
bertekad kali ini mau masuk. Aku ingin melihat bagian dalam area makam dan aku
ingin melihat makam itu dari dekat. Oleh karena itu, aku pikir aku harus
membeli bunga supaya aku terlihat punya alasan untuk mendekati makam (untuk
nyekar).
Si Bapak terus berjalan mengiringiku dan membawakan bunga
tersebut. Sesampainya di depan area makam, dia menyuruhku untuk cuci tangan
dulu di toilet. Aku pergi ke toilet, mencuci tangan dan muka, kemudian kembali.
Setelah itu, kami masuk.
Makam tersebut terletak di dalam sebuah bangunan
berarsitektur Jawa. Di bagian depan dalam bangunan tersebut terdapat semacam
aula yang beralas karpet hijau untuk pengunjung. Di kedua sisi aula terdapat
beberapa jam antik. Makam terletak di bagian dalam. Di situ ada beberapa orang
yang berpakaian adat Jawa, yang mungkin disebut juru kunci.
Setelah kami masuk, kami duduk di bagian belakang aula, di
dekat pintu. Kemudian salah seorang yang kusebut juru kunci itu mendatangi
kami. Dia memberiku beberapa bungkusan kecil dan berkata bahwa benda-benda itu
nanti untuk aku bawa ke makam dan salah satunya untuk aku bawa pulang. Dia dan
Pak Pemandu memintaku dengan halus untuk memberi uang seikhlasku sebagai ganti
benda-benda itu. Aku menolaknya. Aku berkata bahwa aku tidak mau menggunakan
benda-benda itu dan hanya mau memberi bunga (aku pikir aku akan menabur bunga
di makam itu). Aku berpikir bahwa benda-benda itu merupakan persembahan bagi
makam sehingga tentu saja aku tidak mau melakukannya. Mereka tidak
mempermasalahkan, namun tetap memohon uang untuk “yang bersih-bersih”. OK, aku
beri Rp 10.000. Kemudian Pak Pemandu berkata, “Lima ribu lagi mas.” Aku
memberinya Rp 5.000 dan dia meletakkannya di atas tumpukan bunga tadi.
Selanjutnya, aku diajak maju ke makam. Aku tidak ingat bunga
itu kemudian dibawa oleh Pak Pemandu atau si juru kunci yang membawa bungkusan
tadi, dan sepertinya bunga itu diserahkan kepada juru kunci yang berada di
makam. Hal itu terjadi begitu cepat dan karena Pak Pemandu terus berbicara
kepadaku, aku jadi tidak bisa memperhatikan detail proses tersebut. Mungkin
lain kali aku akan mencobanya lagi.
Ternyata, aku tidak menaburkan sendiri bunga ke makam. Aku
bahkan tidak duduk di pinggir makam. Anda bisa mencari gambar makam tersebut di
Google. Aku tidak memotretnya karena dilarang. Ada batas antara makam dengan
pengunjung. Di situ, aku disuruh Pak Pemandu berdoa, bersemedi, kepada Tuhan
dengan menyebut nama “Eyang Djoego” dan “Eyang Soedjo” dan menyampaikan
permohonanku. Aku hanya terus menjawab “Iya.” Kemudian timbullah rasa kuatir
bahwa orang itu akan meminta uang, maka aku berkata kepadanya “Pak, njenengan
tilar mawon mboten nopo-nopo. Kulo badhe mlampah-mlampah (Pak, Anda tinggal
saja, tidak apa-apa. Saya nanti mau jalan-jalan).” Lalu dia berkata bahwa dia
akan menunggu di belakang. Ya sudah..
Di situ terdapat dua makam, yang satu makam Eyang Djoego dan
yang lain makam Eyang Soedjo. Di internet ada banyak sumber yang menceritakan
siapa mereka. Di depan makam itu tentu aku tidak berdoa, tetapi duduk diam dan
melihat-lihat. Aku melihat makam, hiasan-hiasan di sekitarnya, asap kemenyan,
sang juru kunci yang sibuk entah melakukan apa saja, dan suatu keluarga di
sampingku yang sepertinya terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan,
sedang khusyuk berdoa. Sang juru kunci kemudian meletakkan bungkusan-bungkusan
kecil di depan kami.
Setelah beberapa saat mengamati, ditambah dengan kekuatiran
atas barang-barang berhargaku di dalam tas yang tadinya kutinggalkan, aku
memutuskan kembali ke belakang. Baru sejenak aku berdiri, Pak Pemandu maju
menghampiriku dan berkata “Itu diambil, Mas.” Ternyata, bungkusan-bungkusan
kecil yang diletakkan juru kunci di hadapan kami adalah untuk dibawa pulang.
Pak Pemandu mengambilnya untukku. Kami kembali duduk, lalu Pak Pemandu
memberikan bungkusan-bungkusan itu kepadaku. Ada tiga buah bungkusan. Dia
berkata, “Ini nanti yang satu sampeyan buka, direndem di air lima menit, terus
diminum dan dipakai mandi. Yang dua sampeyan simpen di lemari, ditaruh paling
atas, jangan dicampur pakaian dalam.” Aku mengiyakannya dan memasukkan
benda-benda itu ke tas. Kemudian Pak Pemandu berkata, “Jangan sampai tas
sampeyan dilangkahi.” Dia lalu berkata bahwa aku nanti bisa mendapat berkah,
seperti naik pangkat, naik gaji, disenangi bos, dan sebagainya.
Kami berbincang sebentar. Dari situ aku tahu bahwa jam-jam
antik yang diletakkan di situ adalah pemberian orang-orang yang sudah mendapat
berkah sebagai ucapan terima kasih. Pak Pemandu kemudian meminta uang seikhlasku
sebagai tips. Karena uang kecilku sudah tinggal sedikit, aku berkata bahwa aku
perlu menukar uang. Dia kemudian menyarankan untuk membeli sesuatu di toko di
luar supaya mendapat kembalian. Sebelum keluar, aku bertanya apakah nanti aku
bisa kembali masuk area makam, dan dia berkata “Bisa, tapi sebentar lagi makam tutup,
buka lagi jam 3.” Saat itu memang akan diadakan selamatan yang menurut jadwal
adalah jam 10 dan ternyata setelah selesai selamatan, makam akan ditutup sampai
tiba waktu ziarah berikutnya. Kamipun keluar.
Saat itu aku menemukan hal aneh. Tadi ketika mau masuk, aku mau
melepas sandalku di tangga depan pintu. Ada seorang penjaga yang juga
berpakaian adat di luar pintu, dia memintaku untuk meletakkan sandalku di suatu
tempat di sebelah pintu, padahal aku lihat alas kaki orang-orang diletakkan di
tangga. Aku tidak menghiraukannya dan tetap meletakkan sandalku di tangga.
Ketika keluar, aku melihat kedua sandalku sudah tertumpuk di tempat di sebelah
pintu itu tadi. Aku tetap tidak tahu kenapa sandalku harus diletakkan di situ.
Aku dan Pak Pemandu berjalan ke toko, lalu aku membeli sesuatu
dan memberinya sedikit uang. Sebelum berpisah, dia menyarankanku untuk pulang
paling lambat jam 2, karena di atas jam 2 sudah sulit mendapatkan angkot. Kemudian
kamipun berpisah.
Aku berjalan kembali ke makam. Di situ selamatan sedang
berlangsung. Saat selamatan berlangsung, pengunjung tidak bisa maju mendekati makam.
Aku duduk di tempat yang sama dan mengamati acara selamatan itu. Ada empat
keluarga yang mengikuti selamatan. Di depan mereka masing-masing ada besek yang
berisi makanan. Juru kunci mengucapkan doa dengan suara keras untuk orang-orang
itu. Tampaknya semua peserta sudah memberikan daftar pokok doa sebelum acara
berlangsung. Satu pokok doa yang selalu kuingat adalah untuk seorang anak yang
akan kuliah di Kanada. Dari doa yang juru kunci ucapkan, aku menyimpulkan bahwa mereka menggunakan Eyang Djoego dan Eyang Soedjo sebagai pengantara antara mereka dengan Tuhan. Selain mengamati selamatan, aku juga mengamati
arsitektur di dalam bangunan. Aku mengamati langit-langit, pilar-pilar berukir,
dan lain-lain.
Untuk mengikuti selamatan, kita perlu mendaftar di loket dan
membayar. Di atas loket ada daftar harga. Harga selamatan tergantung pada makanan
yang mau kita beli. Seingatku, harga untuk “ayam biasa” adalah Rp 80.000. Anda
bisa mendapatkan info lengkap tentang jenis-jenis perlengkapan selamatan
beserta harganya di sumber-sumber lain di internet.
Setelah selamatan selesai, para peserta keluar. Karena aku
tahu tempat itu akan ditutup, aku pun keluar. Di sebelah kanan area makam, di
belakang, terdapat tempat penyimpanan dua
guci kuno peninggalan Eyang Djoego. Aku masuk ke tempat itu. Di situ ada
seorang juru kunci yang siap mengambilkan air dari guci itu untuk kita. Dia
mengambil air, menuangnya ke gelas, dan memberikannya kepadaku. Dia memintaku
untuk berbalik badan dan berdoa dengan menyebut nama itu sebelum meminumnya.
Akupun berbalik, menunggu sebentar (tidak berdoa), kemudian berbalik ke posisi
awal dan meminum air itu.
Aku berjalan keluar area makam sambil mengamati berbagai
hal. Salah satunya adalah gapura area makam.
Pada gapura itu terdapat ukiran yang bercerita sekilas
tentang orang-orang yang dimakamkan di situ. Di langit-langit gapura tergantung
sebuah lampu antik.Di depan gerbang terdapat larangan.
Kemudian aku memasuki area kelenteng. Di situ ada dua
bangunan, yaitu kelenteng dan tempat ramalan ciam si.
Kelenteng
Kelenteng terdiri dari dua bangunan. Bangunan sebelah kiri
merupakan tempat pemujaan Dewi Kwan Im (disebut “Gedung Kwan Im”). Aku tidak
tahu bangunan sebelah kanan untuk apa, tetapi yang jelas di situ ada tiga
tempat besar dupa yang diletakkan menghadap tiga jendela besar yang terbuka.
Aku berpikir bahwa mungkin itu tempat untuk memuja langit. Di antara kedua
bangunan tersebut terdapat lilin-lilin besar persembahan dari orang-orang. Aku
melihat nama-nama orang yang memberikannya dan di antaranya ada dua nama
perusahaan terkenal.
Gedung Kwan Im
Bangunan sebelah kanan
Pengunjung diizinkan memotret di situ asalkan tidak di dalam
bangunan. Memotret bagian dalam bangunan dari luar diperbolehkan. Karena aku suka melihat patung dewa-dewi, aku masuk ke Gedung Kwan
Im. Setelah agak lama aku mengamat-amati patung-patung di dalam, penjaga masuk menghampiriku
dan berkata, “Cuma mau lihat-lihat ya? Kalau sudah cukup bisa keluar.” OK, aku
keluar..
Aku mengunjungi tempat ciam si. Di dalam ada seorang penjaga
yang melayani orang-orang yang menggunakan ciam si. Orang ini jauh lebih ramah
daripada penjaga kelenteng. Dia setia menjawab pertanyaan pengunjung dan mengajak
ngobrol. Di situ kita bebas memotret.
Tempat Ciam Si
Kali itu, suasana di Gunung Kawi sepi, jauh berbeda dari
yang kubayangkan dan yang kulihat saat pertama kali aku ke sana. Banyak kios
dan toko yang tutup. Menurut orang-orang yang kutanyai, tempat itu ramai pada
hari Minggu dan malam-malam tertentu. Bapak penjaga toko mengatakan bahwa
jumlah pengunjung Gunung Kawi memang sudah berkurang. Begitu juga kata seorang
blogger di internet. Namun karena sepi, aku jadi bisa leluasa melihat-lihat
suasana. Aku juga bisa duduk dengan tenang dan merenungkan segala hal yang
kulihat.
Setelah berjalan ke sana kemari, melihat-lihat, duduk, berpikir dan merenung, sekitar jam 1 aku memutuskan kembali ke kota. Aku berjalan turun ke terminal. Di situ aku melihat beberapa angkot biru muda, maka aku merasa senang karena ada angkot untuk kembali. Tidak ada orang di dalam angkot. Bapak-bapak yang sepertinya adalah sopir angkot duduk-duduk berbincang di sebuah tempat. Aku berkata kepada mereka bahwa aku mau pergi ke Kepanjen, lalu mereka menyuruhku duduk, menunggu di situ. Aku pikir mereka sedang menunggu ada penumpang lain. Beberapa saat kemudian, salah seorang dari mereka menelepon temannya dan mengatakan bahwa di situ ada penumpang yang mau ke Kepanjen. Tidak lama kemudian, datanglah sebuah angkot dan aku disuruh naik angkot itu. Ya, ternyata memang cukup sulit mendapat angkot di situ. Aku kembali ke kota dengan lancar, dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu berangkat.
Senin, 05 Oktober 2015
Pergi ke Gunung Kawi (2 - Perjalanan)
Pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015, aku pergi ke Gunung Kawi. Aku berangkat sekitar pukul 06.20. Berdasarkan info yang kudapat dari internet, aku pergi dengan angkot ke Terminal Arjosari (aku tinggal di Mondoroko, Singosari) dan mencari bis yang menuju Kepanjen. Aku bertanya ke petugas dan mereka bilang bisnya ada di belakang sendiri. Aku berjalan ke belakang dan menemukan bis “Tentrem” jurusan Malang-Blitar. Aku bertanya kepada sang kernet apakah mereka pergi ke Kepanjen dan ternyata mereka bilang tidak lewat Kepanjen. Setelah beberapa saat bingung, aku ingat bahwa aku bisa naik angkot menuju Gadang kemudian oper ke kendaraan menuju Kepanjen.
Aku berangkat pagi-pagi dengan maksud supaya bisa sampai di
Gunung Kawi sekitar pukul 9, namun masalah itu memakan cukup banyak waktu.
Akhirnya, aku naik angkot AMG menuju Gadang. Di Gadang, aku bertanya kepada
seorang satpam dan mendapat info bahwa aku bisa pergi ke Kepanjen dengan naik
angkot putih atau bis “Bagong”. Aku memilih naik bis “Bagong” dan ternyata itu
adalah bis jurusan Malang-Blitar. Yang kutangkap dari info di internet, di
Kepanjen terdapat dua terminal, yaitu Terminal Kepanjen dan Terminal Talangagung.
Yang dilewati bis tersebut adalah Terminal Talangagung, maka aku diturunkan di
depan terminal tersebut.
Seingatku, info-info di internet mengatakan bahwa angkot
menuju Gunung Kawi ada tiga, yaitu yang berwarna biru muda (dari Kepanjen),
merah muda (dari Talangagung), dan hijau muda (aku lupa dari mana). Sebelumnya,
di jalan aku sudah melihat beberapa angkot biru muda, tapi aku tidak turun dan
tetap menuju Talangagung. Aku menunggu di depan terminal, angkot tak kunjung
lewat. Menurut Google Maps, di depan ada pertigaan dimana jalan ke kanan adalah
“Jalan Raya Gunung Kawi”. Aku berjalan ke pertigaan tersebut dan memang papan
penunjuk berkata bahwa jalan ke kanan adalah menuju Gunung Kawi. Aku berjalan
menyeberang ke jalan itu. Singkat cerita, di situ aku menemukan angkot biru
muda dan menaikinya. Kata Pak Sopir, angkot menuju Gunung Kawi cuma ada satu,
ya yang berwarna biru muda itu..
Angkot ini berjalan cukup pelan, entah karena jalan naik
atau karena sopir mencari penumpang atau keduanya. Sudah jalannya pelan, sempat
berhenti pula di suatu tempat seperti pasar di Desa Kebobang. Saat itu di
angkot hanya ada dua penumpang dan si sopir mencari penumpang baru. Aku
mendengar Pak Sopir berkata kepada temannya “Aku munggah nang Gunung Kawi (aku
naik ke Gunung Kawi).” Aku berkesimpulan bahwa rupanya angkot-angkot di sana tidak
selalu naik ke Gunung Kawi. Mungkin tergantung apakah ada penumpang yang mau
pergi ke sana. Di sepanjang jalan, penumpang silih berganti menaiki angkot ini
namun hanya aku yang pergi ke Gunung Kawi. Awalnya aku pikir banyak orang yang
pergi ke sana dengan angkot.
Pergi ke Gunung Kawi (1 - Pendahuluan)
Sudah lama aku ingin pergi ke Gunung Kawi. Tempat ini begitu
terkenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan. Hal itulah yang menyebabkan aku
penasaran dan ingin sekali pergi ke sana (sejak kecil aku tertarik pada hal-hal
mistis).
Suatu kali aku sempat berniat berangkat, namun
tidak jadi. Setelah itu, keinginan pergi ke sana berangsur memudar. Kadang
timbul, kadang tenggelam. Minggu lalu, karena kata-kata seorang teman, keinginan
itu meledak dalam hatiku, “Aku mau ke sana Sabtu besok!” Meski selalu ada ragu
di hatiku, akhirnya aku pergi.
Aku pertama kali pergi ke sana pada malam hari tanggal 1
Januari 2015 bersama Bapak, sepupu beserta istrinya, dan seorang tetangga. Saat
itu, suasana ramai, banyak sekali orang yang berkunjung. Aku melihat ada banyak
orang yang berdoa di depan dan di dalam area makam. Aku sendiri hanya berdiri
di depan dan berusaha melihat apa yang ada di dalam. Sekilas terlihat suasana
Jawa yang begitu kental di dalam, dengan para petugas yang memakai pakaian adat
Jawa berjaga di samping pintu. Sebenarnya aku ingin masuk, tapi malu pada Bapak
dan saudara-saudaraku yang tidak mau masuk (kalau dipikir-pikir, ngapain juga
aku malu..).
Setelah selesai melihat-lihat, kami berjalan keluar area
makam. Kami menemukan tempat Ciam Si. Di tempat ini banyak orang yang mencoba
meramal nasibnya, termasuk beberapa orang dari kami. Setelah itu, kami keluar,
membeli dideh goreng, lalu pulang. Di sepanjang jalan keluar ada banyak penjual
bunga, penginapan, toko-toko suvenir, depot dan rumah makan, dan peramal nasib.
Suasana sangat hidup, ramai seperti pasar.
Aku adalah seorang Kristen sehingga tentu aku tidak setuju
dengan praktek-praktek ritual di tempat itu. Namun tetap saja, aku terkesima
melihat semua itu. Aku berniat kembali pada suatu hari nanti.
Aku suka jalan-jalan, namun tidak dapat mengendarai
kendaraan bermotor. Oleh sebab itu, aku bergantung pada kendaraan umum. Aku
mencari info di internet tentang apakah kita bisa pergi ke Gunung Kawi dengan
kendaraan umum. Info yang kuperoleh mengatakan bahwa untuk pergi ke sana, kita
bisa naik bis menuju Kepanjen dari Terminal Arjosari lalu naik angkot menuju
Gunung Kawi. Itu terlihat sangat mudah. Ketika berada di sana sebelumnya, aku memang melihat sejumlah angkot berwarna biru muda diparkir di suatu tempat. OK, kalau begitu aku bisa pergi ke sana
sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)


























